Tugas
Strategi pembelajaran di SD
Tentang
Pembelajaran di SD


Disusun oleh :
Ega Putri Utami
(1820114)

Lokal
44

Dosen Pembimbing :
Yessi rifmasari, M.Pd.


Pendidikan Guru Sekolah Dasar
STKIP Adzkia
Padang
Tahun Ajaran
2020




A. Konsep Belajar


     Menurut, Slameto (2010 : 1) “Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Hamalik (2011 : 36) mengatakan, “Belajar sebagai suatu proses atau kegiatan dan bukan suatu hasil dan tujuan”. 
    Sedangkan menurut Djamarah (2008 : 13) mengatakan, “Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik”.

    Rifa’i dan Ani (2012 : 66) mengatakan terdapat tiga unsur pokok tentang pengertian belajar, yaitu:

1. Adanya prubahan prilaku.

2. Adanya proses pengalaman, prubahan prilaku tersebut terjadi karena didahului oleh proses pengalaman.

3. Lamanya waktu prubahan perilaku yang dimiliki oleh pembelajar yang berbentuk perubahan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

     Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh prubahan prilaku individu Yang disebabkan oleh proses pengalaman baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Sehingga terjadi perubahan prilaku yang dimiliki Oleh pembelajar yang senantiasa menuju kearah yang lebih baik.


B. Karakteristik proses belajar
         Menurut winata putra (2014:8-9) karakteristik belajar yaitu:

1.Belajar harus memungkinkan jadinya perubahan perilaku pada individu
     belajar merupakan suatu proses, perubahan perilaku yang terjadi pada individu terjadi karena adanya proses belajar yang dilakukan, karena belajar tidak membataskan ruang dan waktu.

2.Perubah harus merupakan buah dari perubahan
      Belajar akan memberikan perubahan pada seseorang anak, jika tidak adanya perubahan maka tidak bisa dikatakan dengan hasil perubahan belajar.

3.Perubah itu relatif menetap
    Dari beberapa penjelasan tentang karakteristik belajar, dapat disimpulkan bahwa karakteristik belajar adalah bersifat menetap pada diri individu, perubahan yang terjadi secara menyeluruh baik secara fisik maupun mental, perubahannya selalu kearah yang positif dan lebih baik, bersifat permanen dan dapat dilakukan dengan adanya motivasi didalam diri serta dapat terjadi seumur hidup. 

C. Tahapan perkembangan peserta didik SD
         Menurut, Jean piaget mengemukakan ada 4 tahapan perkembangan anak adalah sebagai berikut :

1. Tahap Sensorimotor
      Tahap sensorimotor terjadi pada bayi usia 0-2 tahun. Menurut Piaget, setiap bayi lahir dengan refleks bawaan dan keinginan untuk mengekplorasi sekitarnya. Pada usia ini, kemampuan bayi masih sangat terbatas pada gerak refleks dan panca indra. Gerakan-gerakan refleks pun nantinya akan berkembang menjadi kebiasaan.
       Pada tahapan ini, si Kecil belum bisa mempertimbangkan keinginan orang lain. Ia hanya mau keinginannya yang terpenuhi. Mungkin terkesan egois ya, tetapi itulah yang terjadi. Nah pada usia 18 bulan, si Kecil sudah bisa memahami fungsi barang yang dekat dengannya sehari-hari. Ia juga bisa melihat hubungan antar peristiwa dan mengenali orang-orang seperti anggota keluarganya.

2. Tahap Praoperasional
      Tahap praoperasional adalah tahap perkembangan bayi usia 2-7 tahun. Pada masa ini, si Kecil sudah bisa bersosialisasi dengan lingkungannya. Ia juga bisa mengelompokkan berbagai barang berdasarkan warna, bentuk, dan lain sebagainya. 

3. Tahap Operasional Konkret
     Ketika si Kecil memasuki usia 7-11 tahun, ia sudah memasuki tahap operasional konkret. Ia mampu mengurutkan dan mengklasifikasikan objek serta situasi-situasi yang dihadapi. Ia juga sudah mampu mengingat dan berpikir secara logis.

    Anak-anak di tahapan perkembangan ini mulai memahami konsep sebab akibat secara sistematis dan rasional. Ini adalah waktu yang tepat untuk belajar membaca dan matematika. Sikap egoisnya pun menghilang secara perlahan, karena ia mulai memahami suatu permasalahan dan sudut pandang orang lain.

4. Tahap Operasional Formal
    Tahapan perkembangan ini berkisar dari usia 11 tahun ke atas. Si Kecil sudah mulai mampu berpikir abstrak dan menggunakan nalarnya. Ia sudah bisa menarik kesimpulan dari berbagai informasi yang diterima. Ia mulai memahami konsep abstrak, seperti cinta dan norma-norma. Ia juga mulai melihat kalau hidup tidak selalu hitam ataupun putih. Tahapan terakhir ini adalah persiapan si Kecil menuju dewasa.

D. Karakteristik pembelajaran di SD

1. Karakteristik Pembelajaran Di Kelas Rendah 
        Pembelajaran di kelas rendah dilaksanakan berdasarkan rencana pelajaran yang telah di kembangkan oleh guru. Proses pembelajaran harus dirancang guru sehingga kemampuan siswa, bahan ajar, proses belajar, dan sistem penilaian sesuai dengan tahapan perkembangan siswa. Hal lain yang harus dipahami, yaitu proses belajar harus dikembangkan secara interaktif. 
Dalam hal ini, guru memegang peranan penting dalam menciptakan stimulus respon agar siswa menyadari kejadian di sekitar lingkungannya. Siswa kelas rendah masih banyak membutuhkan Perhatian karena focks konsentrasinya masih kurang, perhatian terhadap kecepatan dan aktivitas belajar juga masih kurang. Hal ini memerlukan kegigihan guru dalam menciptakan proses belajar yang lebih menarik dan efektif. 

   Menurut,  Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). 
Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata, yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep￾konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan Cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan Lingkungannya.
     Berdasarkan uraian tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan Karenaena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasional konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut :

1. Mulai memandang dunia Secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, 

2) Mulai berpikir secara operasional,

 3. empergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda,

4. Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubunganngan sebab akibat, dan

5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, Luas dan berat.


Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak 

usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu: 

1. Konkrit 

    Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa di hadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga Lebihh nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat di pertanggungjawabkan

2. Integratif

       Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu 
Keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini Melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. 

3. Hierarkis

Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan 
cakupan keluasan serta kedalaman materi.


Terimakasih

Komentar

  1. Terimakasih pada penulis,,artikelnya sangat membantu sekali..

    BalasHapus
  2. Artikelnya sangat membantu, terima kasih sudah di share semoga dapat dimanfaatkan oleh orang banyak

    BalasHapus
  3. Artikelnya bagus.. Cukup bermanfaat

    BalasHapus
  4. Wahh bisa dijadikan bahan untuk pembuatan makalah

    BalasHapus
  5. Artikel yg menarik menambah ilmu juga gais, good job πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  6. Artikel yang menarik dan bermanfaat

    BalasHapus
  7. Artikel menarik untuk dibaca dan banyaknya pendapat para ahli nya tpi ada kurang nya di artikel ini penulis tidak membuat pendapat sendiri ttng strategi nya sendiri dalam menngajar artikel hanya berpaku pada ahli nya saja. Sekian dan terimakasih atas ilmu yg bermaaf

    BalasHapus
  8. Terimakasih pada penulis,,artikelnya sangat membantu sekaliπŸ‘☺️..

    BalasHapus
  9. Artikelnya sangat membantu. Terimakasih udah di shareπŸ‘

    BalasHapus
  10. Alhamdulilah artikel nya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  11. waah artikelnya bagus , dan bahasanya mudah di pahami terimakasih udah di share

    BalasHapus
  12. terima kasih sudah di share

    BalasHapus
  13. artikelnya bagus semoga bermanfaat

    BalasHapus
  14. Wahh bisa dijadikan bahan untuk pembuatan makalah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini