KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR II

TUGAS 9

STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD

“ Keterampilan Membuka dan menutup pelajaran“



Disusun Oleh:

Nama         : Ega Putri Utami

Bp        : 1820114

Kelas      : PGSD 44



DOSEN PENGAMPU

Yessi Rifmasari, M. Pd.

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 

PADANG

2020




A.   Keterampilan Membuka Dan Menutup Pembelajaran
           Keterampilan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mempersiapkan mental dan menimbulkan perhatian siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Kegiatan membuka pelajaran semacam itu tidak saja harus dilakukan guru pada awal jam pelajaran tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan dari inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Untuk menyiapkan mental siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari, guru dapat melakukan usaha-usaha dengan memberi acuan dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai siswa dengan bahan baru yang akan dipelajari. Siswa yang mentalnya siap untuk belajar adalah mereka yang telah mengetahui tujuan pelajaran, mengetahui masalah-masalah pokok yang harus diperhatikan, mengetahui langkah-langkah kegiatan belajar yang akan dilakukan, dan mengetahui batas-batas tugas yang harus dikerjakan untuk menguasai pelajaran tersebut. Untuk menimbulkan perhatian dan motivasi siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari, guru dapat melakukan usaha-usaha menimbulkan rasa ingin tahu, bersikap hangat dan antusias, memvariasikan cara mengajarnya, menggunakan alat-alat bantu mengajar, memvariasikan pola interaksi dalam kelas, dan sebagainya. Siswa yang perhatian motivasinya telah timbul nampak asyik dalam melakukan tugas, semangat dan kualitas responnya tinggi, ada pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, dan cepat mereaksi terhadap saran-saran guru.

       Kegiatan membuka pelajaran tidak mencakup urut-urutan kegiatan rutin seperti menertibkan siswa, mengisi daftar hadir, menyampaikan pengumuman, menyuruh menyiapkan alat-alat pelajaran dan buku-buku yang akan dipakai dan lain sebagainya yang tidak berhubungan dengan penyampaian materi pelajaran. Kegiatan membuka pelajaran ada kaitannya langsung dengan penyampaian materi pelajaran.

         Kegiatan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk me-ngakhiri kegiatan inti pelajaran. Usaha menutup pelajaran tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar. Usaha-usaha yang dapat dilakukan guru antara lain adalah merangkum kembali atau menyuruh siswa membuat ringkasan dan mengadakan evaluasi tentang materi pelajaran yang baru diberikan. Seperti halnya kegiatan membuka pelajaran, kegiatan menutup pelajaran ini harus dilakukan guru tidak saja pada akhir jam pelajaran tetapi juga pada akhir setiap penggal kegiatan dari inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Seperti halnya kegiatan membuka pelajaran, kegiatan menutup pelajaran juga tidak mencakup urut-urutan kegiatan rutin seperti memberi tugas dirumah, tetapi kegiatan yang ada kegiatan langsung dengan penyampaian materi pelajaran.

           Ada berbagai alasan mengapa guru tidak melakukan kegiatan membuka dan menutup pelajaran antara lain karena lupa, tidak ada waktu, atau memang belum mempunyai keterampilan untuk melaksanakannya. Karena pentingnya fungsi membuka dan menutup pelajaran ini dalam pembelajaran, maka sangat perlu bagi setiap guru untuk memperoleh pengalaman serta latihan yang intensif dalam membuka dan menutup pelajaran.


Prinsip-prinsip penggunaan

Penggunaan keterampilan membuka dan menutup pelajaran dalam pembelajaran, mempunyai pengaruh positif terhadap proses dan hasil belajar. Pengaruh positif itu antara lain:

1.      Timbulnya perhatian dan motivasi siswa untuk menghadapi tugas-tugas yang akan dikerjakan.

2.      Siswa mengetahui dengan pasti batas-batas tugas yang akan dikerjakan.

3.      Siswa mempunyai gambaran yang jelas tentang pendekatan-pendekatan yang mungkin diambil dalam mempelajari bagian-bagian dari suatu mata pelajaran.

4.      Siswa mengetahui hubungan antara pengalaman-pengalaman yang telah dikuasai dengan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang masih asing baginya.

5.      Siswa dapat menggabungkan fakta-fakta, keterampilan-keterampilan atau konsep-konsep yang tercakup dalam suatu peristiwa, serta

6.      Siswa dapat mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mempelajari pelajaran itu, Sedangkan guru dapat mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mengajar.



Sebagaimana keterampilan mengajar lainnya, ada prinsip-prinsip yang mendasari penggunaan komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran yang harus dipertimbangkan oleh guru. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut:

a.       Bermakna

Dalam usaha menarik perhatian atau memotivasi siswa guru hendaknya memilih cara yang relevan dengan isi dan tujuan pelajaran. Cara atau usaha yang sifatnya dicari-cari atau dibuat-buat hendaknya dihindarkan. Ceritera singkat atau lawakan yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran mungkin sementara bisa memikat siswa tetapi akan gagal dalam mewujudkan kelangsungan penguasaan pelajaran

b.      Berurutan dan berkesinambungan

Aktivitas yang ditempuh oleh guru dalam memperkenalkan dan merangkum kembali pokok-pokok penting pelajaran hendaknya merupakan bagian dari kesatuan yang utuh. Dalam mewujudkan prinsip berurutan dan berkesinambungan ini perlu diusahakan suatu susunan yang tepat, berhubungan dengan minat siswa, ada kaitannya yang jelas antara satu bagian dengan bagian lainnya, atau ada kaitannya dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimilki siswa.



Komponen-Komponen Keterampilan Membuka Pelajaran

Penerapan keterampilan membuka pelajaran pada awal suatu jam pelajaran atau pada setiap penggal kegiatan dalam inti pelajaran, guru harus melakukan kegiatan membuka pelajaran. Komponen-komponen keterampilan membuka pelajaran itu meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberikan acuan dan membuat kaitan. Tiap komponen terdiri dari beberapa kelompok aspek dan kegiatan yang saling berhubungan. Sebagai keterampilan maka sifatnya integratif dan ada beberapa komponen yang tumpang tindih. Komponen-komponen dan aspek-aspeknya menurut Abimanyu (1985) adalah sebagai berikut:

1.      Menarik perhatian siswa

Banyak cara yang dapat digunakan guru untuk menarik perhatian siswa, antara lain seperti berikut:

a.       Gaya mengajar guru.

Guru hendaknya memvariasikan gaya mengajarnya agar dapat menimbulkan perhatian siswa. Misalnya guru memilih posisi di kelas dan memilih kegiatan yang berbeda dari yang biasanya dia kerjakan dalam membuka pelajaran. Kali ini ia berdiri di tengah-tengah kelas sambil bertanya pada siswa tentang kegiatan siswa di rumah yang mungkin ada hubungannya dengan materi yang akan diajarkan. Pada kesempatan lain mungkin guru berdiri di belakang atau di muka kelas lalu bercerita dengan ekspresi wajah yang meyakinkan dan nada suara yang menunjukkan rasa bangga.

b.      Penggunaan alat bantu mengajar

Guru dapat menggunakan alat-alat bantu mengajar seperti gambar, model, skema, dan sebagainya untuk menarik perhatian siswa. Alat-alat bantu mengajar selain dapat menarik perhatian siswa, dapat pula menimbulkan motivasi dan memungkinkan terjadi kaitan antara hal-hal yang telah diketahui dengan hal-hal baru yang akan dipelajari. Misalnya dalam mengajarkan simetri, guru membawa gambar-gambar kupu-kupu, orang, cecak. Kemudian menunjukkan bangun-bangun datar yang akan ditentukan sumbu simetrinya

c.       Pola interaksi yang bervariasi

Variasi pola interaksi guru siswa yang biasa, seperti guru menerangkan siswa mendengarkan, atau guru bertanya siswa menjawab, hanya dapat menimbulkan rangsangan permulaan saja. Siswa belum sepenuhnya dapat memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang akan dipelajari. Oleh karena itu, agar siswa dapat tertarik perhatiannya, guru hendaknya mengadakan pola interaksi yang bervariasi dalam menyelenggarakan pembelajaran. Seperti misalnya guru memberi perintah siswa mengerjakan perintah itu, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya, guru atau siswa yang lainya menjawab pertanyaan itu, siswa berinteraksi dengan siswa lainnya dalam diskusi kelompok kecil (buzz-groups) atau dalam suatu eksperimen, guru mengemukakan masalah yang menarik ke seluruh kelas lalu siswa-siswa diminta mengemukakan pendapat mereka, atau guru menunnjukkan barang yang bisa ditonton seperti model-model yang ada manfaatnya lalu siswa diminta untuk melihatnya secara bergiliran baik secara kelompok atau sendiri-sendiri.



2.      Menimbulkan motivasi

Salah satu tujuan dari prosedur membuka pelajaran adalah memilih secara hati-hati hal-hal yang menjadi perhatian siswa. Hal-hal yang menjadi perhatian siswa itu hendaknya dapat digunakan untuk menimbulkan motivasi. Dengan adanya motivasi itu, pembelajaran menjadi dipermudah. Oleh karena itu, guru hendaknya melakukan berbagai cara untuk menimbulkan motivasi itu. Sedikitnya ada 4 (empat) cara untuk menimbulkan motivasi, yaitu:

a.       Dengan kehangatan dan keantusiasan.

Guru hendaknya bersikap ramah, antusias, bersahabat, dan hangat. Sebab sikap yang demikian itu dapat menimbulkan faktor-faktor dari dalam yang mendorong tingkah laku dan kesenangan dalam mengerjakan tugas. Siswa akan timbul motivasinya untuk belajar.

b.      Dengan menimbulkan rasa ingin tahu

Guru dapat membangkitkan motivasi siswa dengan cara menimbulkan rasa ingin tahu dan keheranan pada siswa. Misalnya ibu akan membunyikan jari ibu. Satu menit berikutnya ibu akan membunyikan lagi. Kemudian membunyikan lagi dua menit sesudah itu, lalu empat menit, delapan menit, enam belas menit dan seterusnya. Setiap kali ibu melipatduakan menitnya. Berapa kali ibu akan membunyikan jari tangan ibu selama satu jam. Cara-cara ini sangat baik untuk menimbulkan motivasi siswa.

c.       Mengemukakan ide yang bertentangan

Untuk menimbulkan motivasi siswa, guru dapat melontarkan ide-ide yang bertentangan dengan mengajukan masalah atau kondisi-kondisi dari kenyataan sehari-hari. Misalnya, guru mengajukan masalah sebagai berikut: “Balok merupakan bangun dimensi tiga yang mempunyai panjang, lebar dan tinggi, jadi balok termasuk bangun ruang. Kerucut tidak mempunyai panjang dan lebar tetapi masih termasuk bangun ruang. Mengapa?”

d.      Dengan memperhatikan minat siswa

Guru dapat menimbulkan motivasi siswa dengan cara menyesuaikan topik-topik pelajaran yang diminati siswa. Untuk memperhatikan minat siswa dalam pembelajaran matematika dapat diberikan contoh sebagai berikut. Meminta siswa membuat dugaan tentang ukuran suatu benda. Berapa kira-kira banyaknya air yang dapat dimasukkan dalam suatu drum sampai penuh. Atau contoh lain, berapa kilo berat uang logam sebanyak seratus rupiah. Contoh-contoh tersebut sangat menarik minat siswa dalam mengikuti pelajaran.



3.      Memberi acuan (structuring)

Memberi acuan diartikan sebagai usaha mengemukakan secara spesifik dan singkat serangkaian alternatif yang memungkinkan siswa memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang akan dipelajari dan cara yang hendak ditempuh dalam mempelajari materi pelajaran. Untuk itu usaha dan cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah:

a.       Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas.

Guru hendaknya terlebih dahulu mengemukakan tujuan pelajaran dan batas-batas tugas yang harus dikerjakan oleh siswa, agar mereka memperoleh gambaran yang jelas tentang ruang lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari serta tugas-tugas yang harus dikerjakan. Misalnya, guru pertama-tama berkata, hari ini kita akan belajar tentang pengumpulan data. Perhatikan alat peraga yang ibu bawa (timbangan dan meteran). Kumpulkanlah data berat dan tinggi badan teman-temanmu menggunakan alat peraga tesebut.

b.      Menyarankan langkah – langkah yang akan dilakukan

Pada permulaan atau pada saat-saat tertentu selama penyajian pelajaran, siswa akan terarah usahanya dalam mempelajari materi pelajaran jika guru dapat memberi saran-saran tentang langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan. Misalnya, tugas kalian sekarang adalah membuktikan rumus volum kerucut dengan pendekatan volum tabung. Langkah yang harus kalian kerjakan adalah pertama memasukkan beras atau pasir ke dalam kerucut, lalu tuangkan beras tersebut ke dalam tabung, lakukan hal tersebut sampai tabung penuh. Kemudian buatlah kesimpulan dari kegiatan yang kalian lakukan.

c.       Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas. Misalnya dengan mengingatkan siswa untuk menemukan hal-hal positif dari sifat-sifat tentang sesuatu konsep, manusia, benda, gambar-gambar, dan sebagainya. Di samping hal-hal positif, kemudian siswa perlu pula diingatkan untuk menemukan hal-hal yang negatif, yang hilang atau yang kurang lengkap. Misalnya guru berkata: Amatilah macam-macam model bangun datar segitiga ini, jelaskan mengapa ada yang disebut segitiga samakaki, segitiga samasisi, dan segitiga sembarang, serta ada yang bukan disebut model bangun datar segitiga.





d.      Mengajukan pertanyaan – pertanyaan

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru sebelum mulai menjelaskan materi pelajaran akan mengarahkan siswa dalam mengantisipasi isi pelajaran yang akan dipelajari. Misalnya, sebelum menjelaskan cara membagi dua pecahan, guru dapat mengajukan pertanyaan sebagai berikut, ibu mempunyai setengah loyang kue, kue tersebut akan dibagi dua sama besar dan akan diberikan pada kedua anaknya, berapa bagiankah kue yang diterima masing-masing anaknya? Dengan pertanyaan tersebut diharapkan dapat membantu siswa untuk memahami cara membagi dua pecahan.



4.      Membuat kaitan

Jika guru akan mengajarkan materi pelajaran yang baru, guru perlu menghubungkannya dengan hal-hal yang telah dikenal siswa atau dengan pengalaman-pengalaman, minat, dan kebutuhan-kebutuhan siswa. Hal itulah yang disebut bahan pengait. Contoh usaha-usaha guru untuk membuat kaitan:

a.       Membuat kaitan antar aspek-aspek yang relevan dari bidang studi yang telah dikenal siswa. Dalam permulaan pelajaran guru meninjau kembali sampai seberapa jauh pelajaran yang diberikan sebelumnya telah dipahami. Caranya, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada siswa, tetapi dapat pula merangkum isi materi pelajaran terdahulu secara singkat. Misalnya, sebelum mengajarkan pembagian dua pecahan, guru mengulang kembali bagaimana mengalikan bilangan pecahan.

b.      Guru membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah diketahui. Hal ini dilakukan jika bahan baru itu erat kaitannya dengan bahan pelajaran yang telah dikuasai. Misalnya, guru lebih dahulu mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang pengurangan dan perkalian bilangan cacah sebelum mengajarkan pembagian bilangan cacah.

c.       Guru menjelaskan konsep atau pengertiannya lebih dahulu sebelum menyajikan bahan secara terperinci. Hal ini dilakukan karena bahan pelajaran yang akan dijelaskan sama sekali baru. Misalnya, untuk menjelaskan perkalian dua guru terlebih dahulu menjelaskan jumlah kaki unggas, seperti ayam, itik, burung, sepeda, sepeda motor, dan sebagainya.



Komponen-Komponen Keterampilan Menutup Pelajaran

Menjelang akhir dari suatu pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan, guru harus melakukan kegiatan menutup pelajaran. Hal ini harus dilakukan agar siswa memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi pelajaran yang telah dipelajari. Menurut Abimanyu (1985) cara-cara yang dapat dilakukan guru dalam menutup pelajaran ini adalah sebagai berikut:

1.      Meninjau Kembali

Menjelang akhir suatu jam pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan, guru meninjau kembali apakah inti pelajaran yang diajarkan telah dikuasai siswa. Ada dua cara meninjau kembali penguasaan inti pelajaran itu, yaitu merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan.

a.         Merangkum inti pelajaran.

Pada dasarnya kegiatan merangkum inti pelajaran ini terdapat sepanjang proses pembelajaran. Misalnya, pada saat guru selesai menjelaskan ciri-ciri bangun ruang kubus, atau jika guru membuat kesimpulan secara lisan hasil diskusi yang ditugaskan pada siswa, setelah selesai sejumlah pertanyaan dijawab oleh siswa, pada saat menjelang pergantian topik bahasan, dan tentu saja pada saat pembelajaran akan diakhiri. Selain guru, siswa dapat juga diminta untuk membuat rangkuman secara lisan. Tetapi jika rangkuman yang dibuat oleh siswa itu salah atau kurang sempurna, guru harus membetulkan atau menyempurnakan rangkuman itu.



b.         Membuat ringkasan

Cara lain yang dapat ditempuh untuk memantapkan pokok-pokok materi yang diajarkan adalah membuat ringkasan. Selain manfaat tersebut, dengan ringkasan itu siswa yang tidak memiliki buku sumber atau siswa yang lambat belajar dapat mempelajarinya kembali. Pembuatan ringkasan itu dapat dilakukan oleh guru, dapat pula dilakukan oleh siswa secara perorangan atau kelompok, dan dapat pula dilakukan oleh guru dan siswa bersama-sama. Misalnya, setelah pelajaran statistika tentang pengumpulan dan pengolahan data selesai, siswa diminta membuat ringkasan cara mengolah data yang telah dikumpulkan siswa melalui percobaan. Hasil diskusi tersebut ditulis di kertas lebar dan menempelkannya di dinding atau di papan tulis serta mengemukakan hasil rumusan kelompok itu ke seluruh kelas untuk memperoleh tanggapan.



2.      Mengevaluasi

Salah satu upaya untuk mengetahui apakah siswa sudah memperoleh wawasan yang utuh tentang suatu konsep yang diajarkan selama satu jam pelajaran atau sepenggal kegiatan tertentu adalah dengan penilaian. Untuk maksud tersebut guru dapat meminta siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan secara lisan atau mengerjakan tugas-tugas.

Bentuk-bentuk evaluasi itu secara terperinci adalah sebagai berikut:

a.       Mendemonstrasikan keterampilan.

Pada akhir satu penggal kegiatan siswa dapat diminta untuk mendemonstrasikan keterampilannya. Misalnya, setelah guru selesai menerangkan konsep matematika, guru meminta siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis.

b.      Mengaplikasikan ide baru pada situasi lain

Misalnya, setelah guru menerangkan penjumlahan dua pecahan lalu siswa disuruh menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan pecahan.

c.       Mengekspresikan pendapat siswa sendiri

Guru dapat meminta siswa untuk memberi komentar tentang keefektifan sesuatu demonstrasi yang dilakukan guru atau siswa-siswa lain. Misalnya, setelah permainan peran (role-playing) tentang aritmatika sosial dalam bahasan pengenalan mata uang selesai, lalu siswa diminta untuk mengemukakan pendapat dan perasaan mereka tentang peran yang dimainkan.

d.      Soal – soal tertulis

Guru dapat memberikan soal-soal tertulis untuk dikerjakan siswa. Soal-soal tertulis itu dapat berbentuk uraian, tes objektif, atau melengkapi lembaran kerja.

B. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil

Diskusi kelompok kecil mempunyai karakteristik sebagai berikut:

Melibatkan kelompok arang yang anggotanya antara 3-9 orang (idealnya 5-9 orang)
Berlangsung dalam interaksi secara bebas (tidak ada tekanan dan paksaan ) dan langsung, artinya semua anggota kelompok mendapat kesempatan untuk saling beradu pandang dan saling mendengarkan serta saling berkomunikasi dengan yang lain.
Mempunyai tujuan tertentu yang akan dicapai dengan kerjasama antar anggota kelompok.
Berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis,menuju suatu kesimpulan.
Jadi keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil adalah melaksanakan kegiatan membimbing peserta didik agar dapat melaksanakan diskusi kelompok kecil secara efektif dalam rangka mencapai indikator.

2.2  Prinsip Pelaksanan diskusi

A. Diskusi Hendaknya Berlangsung Dalam Iklim Terbuka

Hal ini ditandai oleh adanya kehangatan hubungan antar pribadi, kesediaan menerima dan mengenal topik lebih jauh, keantusiasan berpartisipasi dan kesediaan menghargai pendapat orang lain serta terbinanya perasaan aman dan bebas berpendapat.

B. Kegiatan diskusi dapat berlangsung secara efektif jika didahului oleh perencanaan dan persiapan yang matang meliputi hal-hal sebagai berikut.

Pemilihan topik sesuai dengan indikator khusus yang akan dicakup, minat dan kemampuan peserta didik serta bermakn.a bagi peningkatan kemampuan berpikirnya.
Perumusan, masalah hendaknya mengandung jawaban yang komplek atau jawaban bermacam-macam yang berbeda hanya tingkat kebenaran, sudut pandang dan arah peninjauannya.
Penyiapan informasi pendahuluan yang berhubungan dengan topik agar peserta didik memiliki latar belakang pengetahuan yang sama yang dapat diIakukan dengan membaca artikel, melakukan observasi dan lain-lain.
Penyiapan diri sebaik-baiknya sebagai pemimpin diskusi. Dalam hal ini guru hendaknya selalu siap sebagai sumber informasi, motivator.Sehingga dapat memberiikan penjelasan yang diperlukan dan menyusun pertanyaan yang memotivasi peserta didik dan memahami kesulitannya.
Penetapan besar kelompok peserta didik. Besar kecilnya kelompok mempunyai kekuatan dan kelemahan yang berbeda.Karena itu hendaknya dipertimbangkan pengalaman, kematangan dan keterampilan peserta didik, tingkat kekompakan, intensitas minat, latar belakang pengetahuan dan keterampilan guru memimpin diskusi.
Pengaturan tempat duduk, agar diupayakan anggota kelompok dapat bertatap muka dan pemimpin diskusi berada dalam posisi yang memungkinkan dapat berhadapan dengan anggota.Sehingga terpupuk suasana kehangatan, persahabatan, keko hesivan antar peserta.
2.3    Komponen keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil

Dalam diskusi kelompok kecil, guru berperan sebagai pemimpin dan pembimbing diskusi. Guru harus mengupayakan agar diskusi tersebut berjalan dengan optimal. Beberapa keterampilan yang harus dimiliki guru sebagai pemimpin diskusi adalah:

a. Memusatkan perhatian

Biasanya begitu guru mengumumkan pembagian kelompok sampai duduk di kelompoknya masing-masing, kelas jadi ramai.Suara anak dan kursi yang ditarik membuat kelas menjadi berisik. Waktu itu biasanya ditambah lagi dengan selingan omongan lain di luar topik diskusi, atau bercanda antar anggota kelompok. Kondisi seperti itu tidak boleh dibiarkan berlama-lama, guru harus segera mengatasi masalah tersebut.

Masalah yang muncul pada saat diskusi kelompok tersebut dapat diatasi dengan memusatkan perhatian siswa. Pemusatan perhatian siswa dapat dilakukan guru, antara lain dengan:

1) Menyampaikan kembali tujuan diskusi dan bagaimana cara mencapainya. Untuk membantu siswa memahami topik diskusi guru dapat membantu dengan mengajukan pertanyaan seputar topik yang sedang dibicarakan. Pertanyaan harus focus dan bersifat menantang siswa untuk tahu banyak hal tentang topik tersebut,

2) Menyampaikan masalah-masalah khusus dan pada saat diskusi terlihat melenceng, guru mengingatkan kembali tentang hal tersebut,

3) Mencermati setiap penyimpangan yang terjadi dan selalu mengingatkan supaya setiap kelompok kembali pada rambu-rambu yang telah disepakati,

4) Membuat kesimpulan pada akhir subpermasalahan, untuk menghimpun pendapat-pendapat siswa tentang subtopik tersebut. pendapat dan gagasan siswa di dalam kelompok bisa dimanfaatkan guru untuk meningkatkan hasil diskusi kelompok. Berikut diberikan cara memanfaatkan gagasan siswa:

Memberikan pengakuan terhadap gagasan siswa dengan cara mengulangi bagian penting yang diucapkan oleh siswa tersebut.
Memodifikasi gagasan siswa tersebut dengan cara menguraikannya kembali.
Menggunakan gagasan siswa untuk mencapai kesimpulan.
Membandingkan gagasan siswa dengan gagasan siswa lainnya.
Merangkum hal-hal telah diuraikan oleh siswa di dalam kelompok.
b. Memperjelas masalah dan  memberikan urunan

Diskusi kelompok kadang diwarnai oleh silang pendapat antar anggota. Guru mendengarkan apa yang diperdebatkan oleh anggota kelompok tersebut. Bila perdebatan untuk mendapatkan sebuah kesepakatan, maka itu pertanda bagus untuk berkembangnya kemampuan komunikasi antar siswa.Tapi apabila menurut guru menunjukkan tanda-tanda keluar dari topik atau salah konsep, maka guru harus mengingatkan kembali, sehingga anak kembali pada topik yang benar.

Memperjelas ide, pendapat, atau gagasan siswa dapat dilakukan dengan cara:

1) Menguraikan kembali atau merangkum sumbangan pikiran dari siswa tersebut sehingga menjadi jelas,

2) Meminta siswa untuk memberi komentar, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membantu siswa memperjelas ide yang dimaksud dan mengembangkannya,

3) Menguraikan gagasan siswa dengan memberi ulasan dan tambahan informasi, atau contoh-contoh yang tepat, sehingga semua anggota kelompok memperoleh pengertian yang sama terhadap konsep yang sedang dibicarakan.

Aktivitas-aktivitas memperperjelas yang dilakukan guru akan meningkatkan efektivitas waktu, memperjelas masalah, dan memotivasi siswa untuk menggali lebih dalam materi ajar tersebut. Motivasi tersebut akan terbawa pada saat siswa merdiskusi untuk sub atau topik berikutnya.

c. Menganalisis pandangan siswa

Diskusi kelompok kecil membuka kesempatan partisipasi baik dalam mengemukakan pendapat, gagasan, maupun menyanggah pendapat teman di dalam kelompoknya.Kadang-kadang antar anggota kelompok terjadi perdebatan.Perdebatan menandakan iklim interaksi sudah berkembang.Namun sebagai kontrol, guru perlu mengawasi jalannya perdebatan tersebut. Bila siswa tidak menemukan jalan keluar dari perbedaan pendapat tersebut, maka harus menganalisis pendapat siswa. Apakah pendapat atau gagasan tersebut dilandasi oleh argumentasi yang kuat. Guru juga dapat menengahi dengan cara kembali memperjelas hal-hal yang sudah disepakati sebelum diskusi.

d. Meningkatkan urunan siswa

Sebagian siswa senang mengemukakan pendapat, tapi belum tentu pendapat itu tepat atau benar. Diskusi kelompok menfasilitasi anak untuk saling melengkapi dan saling mengkoreksi satu sama lain. Sehingga gagasan yang bagus dari siswa terjaring pada diskusi kelompok dan bermanfaat bagi siswa lain di dalam kelompoknya, dengan kata lain meningkatkan sumbangan terhadap kelompok. Untuk meningkatkan urunan pendapat siswa guru sebagai pembimbing dapat melakukan hal-hal berikut:

Mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci yang menantang siswa untuk berpikir, sehingga memunculkan ide baru,
Memberiikan contoh-contoh baik verbal maupun non verbal pada waktu yang tepat. Contoh non verbal misalnya gambar, grafik, diagram, dan cerita atau narasi,
Menciptakan suasana diskusi yang terbuka dan bersahabat
Mengembangkan suasana kondusif di dalam kelompok, melalui pertanyaan-pertanyaan  yang mengundang perbedaan pendapat,
Memberi waktu yang cukup kepada anggota kelompok untuk berpikir, tanpa diganggu oleh komentar-komentar guru,
Memberii dukungan nyata  terhadap pendapat siswa dengan cara mendengarkan dengan penuh perhatian, memberiikan komentar positif, menampilkan mimik senang dan bangga terhadap mereka, serta menampilkan sikap bersahabat. Semua yang dilakukan oleh guru tersebut memberii dampak psikologis yang  mendorong siswa menemukan gagasan baru.
e. Menyebarkan kesempatan untuk berpartisipasi

Salah satu ciri dikusi kelompok adalah tujuan bersama yang dicapai secara bersama-sama.Tugas guru pada saat siswa berdiskusi adalah memantau jalannya diskusi.Mengamati apakah ada siswa yang pasif di dalam kelompok, karena tidak diberi kesempatan atau memang karena pemalu atau tidak punya keberanian untuk mengemukakan pendapat.

Guru harus menganalsis penyebab ada siswa Yangon tidak berkontribusi terhadap kelompoknya. Karena di dalam diskusi kelompok semua siswa bebas menyampaikan pendapat.Tidak boleh ada dominasi oleh anggota kelompok tertentu. Karena dominasi berarti tidak terjadi diskusi, maka tujuan diskusi tidak tercapai bila diskusi didominasi oleh siswa tertentu saja.

Tugas guru sebagai pemimpin diskusi adalah mengaktifkan semua anggota kelompok. Menfasilitasi agar semua siswa berkontribusi terhadap kelompok. Upaya yang dapat dilakukan guru mengatasi masalah ini antara lain:

Mengeluarkan pernyataan untuk meyakinkan siswa bahwa dia pasti bisa. Bahwa dia pasti punya gagasan, bila disampaikan akan bermanfaat bagi teman-temanya di kelompok.
Mengatasi kondisi pembicaraan serentak (lebih dari satu orang bicara sacara bersamaan). Memberii kesempatan pertama untuk menyampaikan pendapat pada siswa yang pendiam.
Mencegah monopoli pembicaraan oleh siswa tertentu.
Mendorong siswa memberi komentar terhadap gagasan temannya, sehingga suasana diskusi menjadi hidup.
Apabila siswa di dalam kelompok tidak menemukan kesepakatan dari apa yang mereka debatkan, guru dapat menengahi dengan cara memilih salah satu pendapat, dan meyakinkan siswa dengan berbagai alas an bahwa pendapat inilah yang paling tepat.
f. Menutup diskusi

Agar diskusi memberiikan makna bagi siswa dan guru dapat gambaran apakah tujuan diskusi tercapai atau tidak, sebagai pemimpin diskusi guru harus menutup diskusi. Aktivitas penutupan diskusi adalah:

Membuat rangkuman hasil diskusi, dapat dilakukan oleh guru dengan menghimpun pendapat siswa dari semua kelompok. Ini juga dapat dilakukan guru dengan menunjuk satu atau dua kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka. Guru berperan sebagai narasumber yang menarik benang merah dari apa yang disampaikan oleh siswa. Sehingga semua siswa di kelas mendapatkan konsep yang benar.
Memberiikan gambaran tindak lanjut atau menyampaikan topik diskusi berikutnya.
Bertukar pendapat dengan siswa tentang proses diskusi yang sudah berlangsung, untuk mengetahui pendapat siswa atau kepuasan mereka terhadap proses diskusi. Hasil diskusi ini menjadi masukan berharga bagi guru untuk merencanakan diskusi berikutnya lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.


Terimakasih

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini